Rabu, 08 Januari 2014

“Tidakkah Aku Bersyukur??”





 Jika saja akulah yang mengendalikan nafas, inginku berhenti saja, bolehkah aku putus asa ya Allah?
ya, perasaan itu selalu ada menyelinap di hati  keputusasaan dalam hidup.
seandainya dibolehkan untuk meminta..aku meminta untuk di lahirkan menjadi tanaman saja atau ikan, ataukah burung!
Hati menjerit dikeheningan malam, menyesali dosa perbuatan yang tak ada habis-habisnya, setiap saat dosaku semakin menggunung, namun pahala tak kunjung sempurna, selalu saja ada celah ketidak ikhlasan yang setiap saat dapat menghanguskan pahala, lantas harus seperti apa? hatiku bertanya.
bukankah aku belum sampai menumpahkan darahku untuk berjuang dan bertahan dijalan-Mu? namun aku sudah merasa tak berdaya. bukan maksud untuk lari dari masalah tapi sudah rindu untuk bertemu dengan-Mu Rabbku…
seandainya boleh..aku ingin lari sekencang-kencangnya ke medan perang, ikut berperang melawan kaum kafir, berlumuran darah, namun tersenyum penuh kebahagiaan. :)

Allah tahu, malaikat pun tahu..bahwa aku rinduu,,,
tetes airmata itu tak henti-hentinya mengalir, entah sampai kapan, “bagaimana jika nyawa ini pergi sebelum dosaku terampuni?” mengalir semakin deras!! kelopak mata membengkak, “bagaimana aku bisa menolak atas siksa yang Allah janjikan itu?” membayangkannya saja sudah takut, azab neraka amat pedih, bagaimana bisa aku mampu utuk bertahan?”
ya, benar bukankah azab neraka itu begitu mengerikan? jadi harusnya aku mampu bertahan atas musibah, ujian, dan fitnah yang sebenarnya tidaklah seberapa ini, benar?”
“ya Allah,,tapi darimana aku harus memulainya? “beri petunjukmu…”  suara hatiku lirih.

yang berakhir indah itu memanglah tak mudah melewatinya, terlalu banyak ranjau. terasa sekali, jatuh bangun,  merayap untuk aku mengejar akhirat, namun lebih letih lagi untuk mengejar dunia yang hanya sesaat, sudahlah..dunia itu dikejar-kejar semakin menjauh dan semakin kamu dibuatnya tidak puas dan letih,  yang menyebabkan kamu jauh dari akhirat, jadi sangatlah sia-sia semata.

beda halnya dengan mengejar akhirat, sudah pasti menguntungkan, bahkan bukan cuma akhirat tapi dunia juga berada pada genggaman tanganmu.
“jadi kenapa aku harus bersedih? ” Allah menjawabnya lewat alquran: laa yukalifullahu nafsan illaa wusa’haa.. “Allah tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambanya”.

terasa berat, namun ada yang lebih berat lagi dariku, Terbayang semuanya : ketika seorang janda tua bersusah payah mencari rezeki dengan mengumpulkan akua kosong, menjadi buruh cuci dari pintu kepintu rumah orang lain demi menghidupi anak-anaknya, tapi aku masih bisa mencari rezeki dengan enak duduk depan komputer, hanya memerintah sebuah tekhnologi, lantas apalagi yang membuatku tidak bersyukur? ketika seseorang ingin menjadi seperti diriku, kerja  sambil kuliah, lantas apalagi yang membuatku tidak bersyukur?
ketika aku masih bisa mengenakan pakaian bagus, sedang anak jalanan itu berpakaian compang-camping. aku masih bisa makan nasi goreng, sedang anak jalanan itu makan dengan makanan sisa, ketika bapak tua itu mengayuh becak, ketika bapak tua menyapu halaman stasiun, ketika anak 10 tahun jadi kuli pasar, ketika dan ketika,,,bukankah aku tidak melakukan itu semua, lantas apalagi yang membuatku tidak bersyukur? ketika hidup meminta untuk memilih, ada orang yang memilih jalan yang menyesatkannya, ketika ia diberi ujian lantas dia tidak sabar  lalu memilih untuk menghakhiri semuanya, bunuh diri, menjual diri, mencuri, berjudi, mabuk, narkoba, menghalalkan segala cara…bukankah aku tidak seperti itu? bukankah aku memilih untuk meratapi kesedihanku hanya pada sisi-Nya, berserah kepada-Nya? bukankah ini jauh lebih baik? lantas apa lagi yang membuatku tidak bersyukur? maka syukurilah,, setiap detik kehidupan yang dijalani memiliki makna yang baik untuk diri. karena semua keteraturan hidup telah digariskan, untuk menuju Allah semata.

Ida Rofiah
Bogor , Jawa Barat

0 komentar:

Posting Komentar